Latar Belakang Perlombaan Merpati Kolongan

Latar Belakang Perlombaan Merpati Kolongan

Karena hobi memelihara burung merpati saat ini sedang menjamur di masyarakat, tak heran jika saat ini telah banyak yang menyediakan berbagai macam burung merpati untuk dijual, baik untuk dijadikan peliharaan hias maupun untuk tujuan perlombaan, seperti merpati balap ataupun kolongan. Pada dasarnya, burung merpati kolongan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh burung merpati pada umumnya karena telah dilatih sedemikian rupa terlebih dahulu. Bahkan beberapa burung merpati kolongan yang telah diikutkan pada berbagai kesempatan perlombaan dan mendapatkan juara, dijual dengan harga yang cukup fantastis. Tak mengherankan jika kegiatan Adu Merpati sudah cukup sering dilakukan saat ini.

Peralihan fungsi merpati dari yang dulunya sebagai pembawa pesan menjadi komoditi untuk ladang bisnis seputar ajang perlombaan, tentu saja menyisakan cerita dan sejarah tersendiri. Baca juga: Asal-usul Merpati Balap di Indonesia. Beberapa orang mungkin penasaran dengan latar belakang adanya perlombaan merpati kelas tinggi kolongan yang kerap dilakukan di Indonesia.

Perlombaan Merpati di China

Perlombaan merpati pada dasarnya telah dilakukan dan populer di China sejak tahun 1368, dimana pertama kali tercatat di akhir era Dinasti Ming (1368-1644). Karena kepopulerannya, banyak burung merpati yang diperoleh dari Eropa diimpor ke negara ini. Padahal, Eropa merupakan tempat lahirnya merpati balap terbaik. Namun, kepopulerannya berada di China karena selain dijadikan sarana olahraga dan hobi, kegiatan ini juga menjadi tempat perputaran dan pertaruhan uang yang lumayan banyak. Hadiah lombanya juga cukup menggiurkan hingga mampu menarik perhatian banyak orang.

Namun, karena persaingan yang cukup ketat dengan pertaruhan uang yang tidak sedikit, perlombaan ini kian dihiasi dengan kecurangan oknum-oknum di dalamnya. Kecurangan yang dilakukan umumnya dapat membuat kecepatan dari merpati sangat cepat dan di luar akal sehat. Oleh sebab itu, dengan memanfaatkan teknologi, seperti pemasangan GPS untuk memantau lokasi dan memastikan kecepatan terbang burung tetap di batas wajar, kecurangan dalam lomba balap merpati di negara tersebut dapat diminimalisir.

Baca Juga:   Aturan Lomba Balap Burung Merpati Kolong

Selain itu, kecanggihan teknologi yang digunakan turut membantu panitia lomba dalam menentukan pemenangnya. Karena semua aktivitas terbang burung akan tercatat dengan jelas dan terpantau dari garis mulai hingga garis akhir.

Perlombaan Merpati Kolongan di Indonesia

Para penggemar burung merpati kelas tinggi di Indonesia mungkin sudah sering mengikuti ajang perlombaan dan sejenisnya. Tempat perlombaan seperti ini umumnya dilakukan di tanah yang lapang dengan dibubuhi empat tiang dengan tali yang ditautkan pada bagian atas masing-masing tiang hingga membentuk bujur sangkar.

Konsep perlombaan merpati tinggi ini pertama kali ditemukan oleh Wahyudin Noor Aly alias Goyud yang merupakan orang Brebes. Ia mengatakan bahwa konsep perlombaan merpati ini ditemukannya pada tahun 1980-an. Sebelum saat itu, perlombaan merpati pada dasarnya sudah pernah dilakukan di lingkup kecil antar tetangga atau RT saja. Namun, saat itu merpati yang dilombakan hanya terbang dengan ketinggian yang rendah dengan aturan siapa yang lebih dulu mendaratlah yang akan jadi pemenangnya. Akan tetapi, sistem perlombaan yang seperti itu tidak cukup menarik perhatian banyak orang dan terkesan monoton tanpa babak penyisihan dan tantangan yang lebih. Hal tersebut dapat dibuktikannya dengan sedikitnya peserta yang berpartisipasi.

Karena dasar itulah, sebagai salah satu penggemar burung merpati, ia berpikir dan mencari ide dengan sistem dan suasana yang baru dan lebih berkualitas dengan Aturan Lomba Balap Burung Merpati Kolong yang jelas dan bisa dipatenkan untuk setiap ajang perlombaan. Rasa optimisnya untuk menemukan ide baru membuatnya mencaritahu hingga ke berbagai daerah, meski akhirnya ia merasa semua daerah sama saja.

Ide dari konsep yang ia buat bermula dari persolaan yang kerap ditemukan pada perlombaan yang telah diadakan sebelumnya. Dimana pada setiap perlombaan, juri akan cukup kesulitan dalam menentukan finish-nya. Oleh karena itu, Goyud berpendapat bahwa sebaiknya ada arena berbentuk kotak yang akan menjadi tempat mendarat, sedangkan garis finish-nya adalah kolong tali di atas tiang. Jadi arena kotak itu menjadi media untuk mendarat, sementara finishnya adalah kolong tali yang ditempatkan di bagian atas tiang. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya perlombaan merpati tersebut diadakan dengan menerapkan konsep yang ia tawarkan, aturan dalam perlombaan juga terus mengalami perubahan. Jika awalnya juri harus menilai siapa yang masuk kolong duluan, saat ini penilaiannya cukup dengan melihat saat merpati menempel ke tanah.

Baca Juga:   Sejarah Merpati Kolong Indonesia

Kemudian, tali yang dikaitkan di bagian atas masing-masing tiang hingga membentuk bujur sangkar adalah untuk mengukur bahwa merpati terbang tinggi dan menukik melewati kolong tersebut. Sementara itu, merpati betina akan ditempatkan di dalam kotak arena sembari menunggu merpati jantan menukik dari atas dan melewati kolong. Jika aturan tidak diikuti oleh merpati, maka kemungkinan merpati tersebut akan digugurkan. Hingga saat ini, konsep perlombaan di lapangan seperti ini telah dipakai secara umum di seluruh Indonesia untu ajang perlombaan merpati kolongan atau merpati tinggi.

 

 

Give a Comment